Bocah Ini Diduga Korban Eksploitasi, Pemkot Makassar Tutup Mata?

Bocah ini menjual buah tala di jembatan Jalan Abdullah Daeng Sirua, persis di depan jejeran baliho berisi jargon klise para caleg. Bocah ini diduga korban eksploitasi. (FOTO-FOTO: ARFA RAMLAN/RAKYATKU.COM)
Bocah ini menjual buah tala di jembatan Jalan Abdullah Daeng Sirua, persis di depan jejeran baliho berisi jargon klise para caleg. Bocah ini diduga korban eksploitasi. (FOTO-FOTO: ARFA RAMLAN/RAKYATKU.COM)
Bocah ini menjual buah tala di jembatan Jalan Abdullah Daeng Sirua, persis di depan jejeran baliho berisi jargon klise para caleg. Bocah ini diduga korban eksploitasi. (FOTO-FOTO: ARFA RAMLAN/RAKYATKU.COM)
Bocah ini menjual buah tala di jembatan Jalan Abdullah Daeng Sirua, persis di depan jejeran baliho berisi jargon klise para caleg. Bocah ini diduga korban eksploitasi. (FOTO-FOTO: ARFA RAMLAN/RAKYATKU.COM)

RAKYATKU.COM - Ada pemandangan aneh di jembatan Jalan Abdullah Daeng Sirua. Beberapa bocah tampak berdagang buah lontar atau lebih populer dengan sebutan buah tala.

Bocah itu mangkal setiap hari. Satu bocah diperkirakan berusia 8 tahun. Ada lagi yang masih bayi. Mereka mangkal mulai siang atau sore hari hingga sekitar pukul 22.00 wita.

Benarkah bocah itu berdagang buah tala? Buahnya benar-benar ada. Dikemas plastik putih. Sayang, buah jualannya itu diletakkan langsung di lantai jembatan. Mungkinkah ada yang mau membeli buah tala yang diletakkan di atas wadah yang kotor?

Bocah ini diduga korban eksploitasi orang tertentu. Mereka "dipasang" untuk memancing rasa belas kasihan pengguna lalu lintas. Pancingan itu tampaknya berhasil. Sejumlah pengendara menyempatkan singgah dan memberi uang kepada bocah itu.

Sudah lama bocah tersebut mangkal di jembatan Abdullah Daeng Sirua. Namun, sejauh ini belum ada tindakan dari instansi terkait. Ada kesan pemerintah kota tutup mata terhadap fenomena tersebut.

Sebenarnya, fenomena ini sudah diketahui pemerintah kota. Pelaksana tugas Kadis Perhubungan Makassar, Muhammad Iqbal Asnan sudah mengetahui titik mangkal anak jalanan.

Selain jembatan Abdesir, ada juga di lampu merah PLTU Tello, depan Aspol Tello, flyover, dan sekitar kantor DPRD Sulsel.

Data Dinas Perhubungan senada dengan data yang dimiliki supervisor Sakti Peksos Anak Sulsel, Norman Ilmi. Datanya malah lebih detail. Lengkap dengan identitas organisator anak jalanan tersebut.

Menurut Norman, beberapa kali pihaknya mencoba untuk mengatasi persoalan ini. Namun, para koordinator ini cukup keras. Bahkan salah satu posko yang coba dibangun pihaknya dibakar oleh oknum tertentu.

"Kami juga khawatir dengan keselamatan teman-teman di lapangan," ungkapnya.

Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Makassar juga sudah mengetahui kasus ini. 

Tim Reaksi Cepat (TRC) P2TP2A, Amrizal Mustafa mengatakan, pihaknya telah melakukan wawancara terhadap anak penjual buah tala di jembatan Abdesir. Dari situ diketahui bahwa bocah tersebut didatangkan dari Jeneponto. 

"Diantar dini hari oleh keluarganya. Biasa nginap di jembatan kalau tidak sempat dijemput," beber Amrizal beberapa hari lalu.

Namun, lanjutnya, penertiban menjadi wewenang Dinas Sosial. "Wewenang kita di wilayah pembinaan. Kalau penanganan di lapangan itu wewenang Dinsos, nanti mereka serahkan ke kita untuk dibina," terang Amrizal.

Identitas Oknum yang Mengeksploitasi Anak:
 
1. DHL (P/48), wilayah eksploitasi sekitar flyover dengan modus jual tisu
2. AMG (L/30), persimpangan bandara dengan membawa kotak sumbangan
3. DR (L/51), minta sumbangan panti asuhan
4. HSN (P/47), anjungan Pantai Losari dengan modus menyuruh anak mengemis
5. AD (L/45), Jalan Boulevard-Pengayoman, mengemis dan jual buku agama
6. SK (P/50), anjungan Pantai Losari, menyuruh anak mengemis
7. DN (L/38), Jalan Abdurrahman Basalamah dan PLTU Tello, anak menjual buah tala