Umat Buddha Makassar Hidupkan Tradisi Pindapata

Warga Tionghoa di Makassar memberikan derma atau sedekah kepada biksu pada prosesi Pindapata di Jalan Sulawesi, Makassar, Minggu (19/05/2019). (FOTO-FOTO: ARFA RAMLAN/RAKYATKU.COM)
Warga Tionghoa di Makassar memberikan derma atau sedekah kepada biksu pada prosesi Pindapata di Jalan Sulawesi, Makassar, Minggu (19/05/2019). (FOTO-FOTO: ARFA RAMLAN/RAKYATKU.COM)
Warga Tionghoa di Makassar memberikan derma atau sedekah kepada biksu pada prosesi Pindapata di Jalan Sulawesi, Makassar, Minggu (19/05/2019). (FOTO-FOTO: ARFA RAMLAN/RAKYATKU.COM)
Warga Tionghoa di Makassar memberikan derma atau sedekah kepada biksu pada prosesi Pindapata di Jalan Sulawesi, Makassar, Minggu (19/05/2019). (FOTO-FOTO: ARFA RAMLAN/RAKYATKU.COM)
Warga Tionghoa di Makassar memberikan derma atau sedekah kepada biksu pada prosesi Pindapata di Jalan Sulawesi, Makassar, Minggu (19/05/2019). (FOTO-FOTO: ARFA RAMLAN/RAKYATKU.COM)

Pindapata berasal dari bahasa Pali yang artinya menerima persembahan makanan. Sedangkan yang disebut Patta adalah sejenis mangkok makanan yang digunakan oleh para bhikkhu/bhikkhuni.

Pindapatta merupakan tradisi Buddhis yang telah dilaksanakan sejak zaman kehidupan Sang Buddha Gautama hingga saat ini, terus berlanjut hingga jaman Buddha-Buddha yang akan datang. 

Tradisi Pindapatta ini masih tetap dilaksanakan di beberapa negara, seperti Thailand, Kamboja, Myanmar dan Srilanka. Sedangkan di negara-negara lain termasuk Indonesia, tradisi ini sudah jarang dilaksanakan disebabkan banyak faktor yang tidak mendukung pelaksanaan kebiasaan ini. Seperti jumlah Bhikkhu yang tidak banyak, juga jumlah umat Buddha yang sedikit, dan banyak pula di antaranya yang tidak mengerti dan tidak mengenal tata cara tradisi Pindapatta ini.

Pindapatta dilaksanakan oleh para Bhikkhu/ Bhikkhuni dengan cara berjalan kaki dengan kepala tertunduk sambil membawa Patta/ Patra (mangkok makanan) untuk menerima/ memperoleh dana makanan dari umat guna menunjang kehidupannya.

Pemberian dana makanan kepada para Bhikkhu/Bhikkhuni ini tidak sama dengan pemberian sedekah atau berdana kepada seorang pengemis, peminta-minta, dan sebagainya. 

Dalam Pindapatta ini seorang Bhikkhu/Bhikkhuni tidak boleh mengucapkan kata-kata meminta, tetapi umatlah yang secara sadar dan ikhlas, serta semangat bakti memberikan/mendanakan makanan demi membantu kelangsungan kehidupan suci para anggota Sangha dan membantu kelangsungan serta melestarikan Buddha Dhamma itu sendiri.

Bagi para Bhikkhu/Bhikkhuni sendiri, pindapatta ini merupakan cara untuk melatih diri hidup sederhana/prihatin, belajar menghargai pemberian orang lain, dan melatih Sati (perhatian/kesadaran murni), serta merenungkan bahwa fungsi utama makanan adalah untuk memenuhi kebutuhan badan jasmani agar tidak cepat sakit dan lapuk, bukan untuk kesenangan dan mencari kenikmatan.

Sedangkan bagi umat Buddha, pindapatta ini merupakan ladang yang subur untuk menanam jasa kebajikan sebab berdana kepada Mereka yang menjalani kehidupan suci merupakan suatu berkah yang utama. (Dikutip dari samanasasana.blogspot.com)